Monday, February 25, 2013

WINTER 2013~alhamdulillah

assalamualaikum, lama xmengarang di sini...menconteng isi hati...menangis2 di depan skrin beku nie, atau xpun membebel seorang diri di sini. setia sungguh kamu blog. lama xmenulis xbermakna aku x perlukan kau lagi, namun walau aku perlukan kau pun, xbermakna aku masih lemah.

dear blog yg disayangi, ingin skali aku coretkan lakaran perjalanan percutian aku yg aku kira sungguh gembira. hati berbunga2 ceria, senyuman memanjang memenuhi ruang pipi...
gembira mengenali sahabat nurul iman.

tapi xtahu bagaimana nak mula...Allah...alhamdulilah


ada masa, dan keizinan, insyallah ana coretkan buat simpanan dan kenang-kenangan..

Monday, January 14, 2013

KISAH CINTA SAIDINA ALI DAN SAIDATINA FATIMAH


Ada rahsia dalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekapan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tampalkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semua saling tertawa membanggakan tindakannya pada Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah mengherdik mereka dan seolah waktu terhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar khabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru kerana ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak ditandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di kamarnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berdakwah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam kerana sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi kewangan, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih mampu membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaitan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu cuba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi kerana tak bertemu beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan halang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki berani. ’Ali, sekali lagi sedar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan banyak orang, dia pemuda yang belum bersedia untuk kahwin. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali redha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan. Maka ’Ali bingung ketika khabar itu didengarinya. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam mana kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulullah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?”Mengapa bukan engkau yang mencuba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencuba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” ”Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandaikan?””Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”’Ali pun menghadap Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat keanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahawa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Nabi.Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia bersedia ditolak. Itu risiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?” ”Entahlah..” ”Apa maksudmu?” ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ bermakna sebuah jawapan!”. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya! ”Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak hairan kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Puteri Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, kerana sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda” ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mahu berkahwin denganku? dan Siapakah pemuda itu? ”Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, kerana pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah kahwinkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Monday, December 24, 2012

DIARI HALWA HATI 5

Bismillah
alhamdulillah diberi kesempatan bertemu buah hati aku
bkongsi cerita bertukar gelak tawa
terserius kdg2 dan sbgnya...
hari nie aku tserius sikit...sbenarnya agak sedih sbb tue jd serius bila dpt berita yg kurang senang ttg adik2 buah hati. moga Allah jaga kalian. kak Zakiah serah adik2 pd jagaan Allah
xkan bisa selamanya aku mampu menyelamu dn menjaga hati2 kalian.

moga dlm pimpinan Allah sentiasa, setiap derap langkah, gerak alih tangan
senyuman2 manis menawan dan segalanya...allahumma amin


dan aisyah yg tcinta juga. 

moga kita saling mengamalkan ciri2 orang beriman yg dicintai Allah:
Al-Maidah:54
[Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui] 


Friday, December 21, 2012

HARI YG AKU TAK SUKAI

bismillah,

1 merindui halwa hati
2 merindui sc sendiri
3 merindui sahabat2 malaysia
4 merindui pershabtan yg hebat thn 1
5 merindui majlis ilmu yg dpt mhilangkan gelisah ini
6 merindui rasa dekat pada dia
7 merasakan diri sungguh kurang hgg hilang momentum
8 merasa malu dgn amalam ilmy diri
9 kadang marah pada hati yg lalai nie...asyik lupa saja
10 merindui halwa hati
11 sbnarnya aku merindui basuhan2 hati nie sbb tue rindu liqa'
12 mendoakan diri sehebat 'mereka' dalam amalan ilmu
13 bdoa ketika berada bersama  'mereka'
14 kenapa? sbb aku dengki dgn amalan ilmu 'mereka'
15 merindui kecintaan pada palestin yg asyik naik turun
16 merindui ingatan2 dlm doa buat mereka
17 merindui kesungguhan berdoa



hebatlah diri hebatlah diri...ya Allah aku xpinta hebat dimata dunia di mata manusia, namun aku pinta hanya permudahkan jalan bagi ku mengamalkan ilmu ku, kuatkan, tetapkan, tsabatkan aku dalam beramal...
peringatan untuk diri, ilmu sedikit tp beramal lebih baik wahai diri....
rasa mahu saja aku mengulang baca buku ayuhal walad imam al-ghazali...dimana hati sentiasa dirundum sedih yg bg aku menjadi momentum utk terus berubah, menjadikan hati sentiasa takut dgn rendahnya diri, banyakknya yg perlu dipelajari...Allah pimpin aku jadi hamba rabbani...bukan seasoni...

teringt seorang dr senior di sini. kata akak tue, walau sekuat mana kita satu hari kita akan ada rs futur dan ingin berundur...sbb tue kita kena kekal bsama. saling mguatkan.



Tuesday, December 18, 2012

MENEGAKKAN KEBENARAN DENGAN BERHIKMAH


“Jikalau kamu pd 1hari, terheret dlm kancah pertengkaran antara kamu & org lain atau dgn sekumpulan orang dan sesungguhnya niatyg ada dihatimu utk mzahirkan kebenaran sampai kebenaran tidak hilang, maka bolehlah kamu berbuat demikian. tetapi jika benar niat dihatimu itu utk menzahirkan kebenaran maka disana ada 2 tanda:

1 bahawa engkau tidak membezakan sama ada kebenaran itu nanti tersingkap melalui lidahmu atau lidah org lain dr pada mu.
2 perbahasan itu lebih disukai seandainya dilaksanakan  ditempat yg tertutup  drp tempat yg dihadiri oelah org ramai ”