Saturday, May 5, 2012

Kisah Sahabat Nabi: Jaafar bin Abu Thalib, Si Burung Syurga

Ja'far bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim masuk Islam sejak awal dan sempat mengikuti hijrah ke Habasyah. Ia malah sempat mendakwahkan Islam di daerah itu. 

Dalam Perang Muktah, ia diserahi tugas menjadi pemegang bendera Islam. Setelah tangan kanannya terpotong dia memegang bendera dengan tangan kiri. Namun tangan kirinya juga terpotong, sehingga dia memegang bendera itu dengan dadanya. Akhirnya, ia mati syahid dengan tubuh penuh luka dan sayatan pedang.

Di kalangan Bani Abdi Manaf ada lima orang yang sangat mirip dengan Rasulullah SAW, sehingga seringkali orang salah menerka. Mereka itu adalah Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthallib, sepupu sekaligus saudara sesusuan beliau. Qutsam Ibnul Abbas bin Abdul Muthallib, sepupu Nabi. Saib bin Ubaid bin Abdi Yazin bin Hasyim. Ja’far bin Abu Thalib, saudara Ali bin Abu Thalib. Dan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah SAW. Dan Ja'far bin Abu Thalib adalah orang yang paling mirip dengan Nabi SAW di antara mereka berlima.

Ja’far dan istrinya, Asma’ bin Umais, bergabung dalam barisan kaum Muslimin sejak dari awal. Keduanya menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum Rasulullah SAW masuk ke rumah Al-Arqam. 

Pasangan suami istri Bani Hasyim yang muda belia ini tidak luput pula dari penyiksaan kaum kafir Quraisy, sebagaimana yang diderita kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam. Namun mereka bersabar menerima segala cobaan yang menimpa. 

Namun yang merisaukan mereka berdua adalah kaum Quraisy membatasi geraknya untuk menegakkan syiar Islam dan melarangnya untuk merasakan kelezatan ibadah. Maka Ja’far bin Abu Thalib beserta istrinya memohon izin kepada Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah bersama-sama dengan para sahabat lainnya. Rasulullah SAW pun mengizinkan. 

Ja'far pun menjadi pemimpin kaum Muslimin yang berangkat ke Habasyah. Mereka merasa lega, bahwa Raja Habasyah (Najasyi) adalah orang yang adil dan saleh. Di Habasyah, kaum Muslimin dapat menikmati kemanisan agama yang mereka anut, bebas dari rasa cemas dan ketakutan yang mengganggu dan yang menyebabkan mereka hijrah.

Ja’far bin Abu Thalib beserta istri tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi yang ramah tamah itu selama sepuluh tahun.

Pada tahun ke-7 Hijriyah, kedua suami istri itu meninggalkan Habasyah dan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Kebetulan Rasulullah SAW baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Ja’far sehingga karena kegembiraannya beliau berkata, "Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Ja’far?"

Begitu pula kaum Muslimin umumnya, terlebih fakir miskin, mereka juga bergembira dengan kedatangan Ja’far. Ia adalah sosok yang sangat penyantun dan banyak membela golongan dhuafa, sehingga digelari Abil Masakin (bapak orang-orang miskin).

Abu Hurairah bercerita tentang Ja’far, "Orang yang paling baik kepada kami (golongan orang-orang miskin) ialah Ja’far bin Abu Thalib. Dia sering mengajak kami makan di rumahnya, lalu kami makan apa yang ada. Bila makanannya sudah habis, diberikannya kepada kami pancinya, lalu kami habiskan sampai dengan kerak-keraknya."

Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah, pada awal tahun ke-8 Hijriyah, Rasululalh SAW menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Muktah. Beliau mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan.

Rasulullah berpesan, "Jika Zaid tewas atau cidera, komandan digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas atau cidera pula, dia digantikan Abdullah bin Rawahah. Dan apabila Abdullah bin Rawahah cidera atau gugur pula, hendaklah kaum muslmin memilih pemimpin/komandan di antara mereka."

Setelah pasukan sampai di Muktah, yaitu sebuah kota dekat Syam dalam wilayah Yordania, mereka mendapati tentara Romawi telah siap menyambut dengan kekuatan 100.000 pasukan inti yang terlatih, berpengalaman, dan membawa persenjataan lengkap. Pasukan mereka juga terdiri dari 100.000 milisi Nasrani Arab dari kabilah-kabilah Lakham, Judzam, Qudha’ah, dan lain-lain. Sementara, tentara kaum Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah hanya berkekuatan 3.000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang itu berhadap-hadapanan, pertempuran segera berkobar dengan hebatnya. Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid ketika dia dan tentaranya sedang maju menyerbu ke tengah-tengah musuh.

Melihat Zaid jatuh, Ja’far segera melompat dari punggung kudanya, kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya. Dia maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya. Akhirnya musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. 

Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat. Suatu ketika tangan kanannya terkena sabetan musuh sehingga buntung. Maka dipegangnya bendera komando dengan tangan kirinya. 

Tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Dia tidak gentar dan putus asa. Dipeluknya bendera komando ke dadanya dengan kedua lengan yang masih utuh. Namun tidak berapa lama kemudian, kedua lengannya tinggal sepertiga saja dibuntung musuh. Ja'far pun syahid menyusul Zaid. 

Secepat kilat Abdullah bin Rawahah merebut bendera komando dari komando Ja’far bin Abu Thalib. Pimpinan kini berada di tangan Abdullah bin Rawahah, sehingga akhirnya dia gugur pula sebagai syahid, menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu.

Rasulullah SAW sangat sedih mendapat berita ketiga panglimanya gugur di medan tempur. Beliau pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.

Asma’ bercerita, "Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk. Beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami. Beliau menanyakan mana anak-anak Ja’far, suruh mereka ke sini.”

Asma' kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak Ja'far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka. 

Asma' bertanya, "Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?"

Beliau menjawab, "Ya, mereka telah syahid hari ini." 

Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka. 

Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya, "Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya... Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya." 

Kemudian beliau bersabda, "Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya."


wind

TAQWA

[off caps]

salam alaik. peace be upon you. greetings.

aku bagi satu tips kat kau. kalau kau tgh marah dgn seseorang, down, rs rebellious je n nak control anger tue. tarik nafas. time tue, kau dlm keadaan lemah. dan time tue syaitan amik pluang dn masuk mbisik2 kite. mcucuk2 kite dan kalau kau lepaskan kmarahan tue, kau KALAH!


sayangnya rasa cinta itu tlalu cantik dan agung. ruginya bila ia dikotori dgn disandarkan pd sifat yg lemah.
cinta itu sesuatu yg suci org kata. dan aku percaya krn cinta pada haknya milik Dia yg Maha Agung. kau tahu seorang pencinta yg setia bebenar mencintai yg hak, pada diri dia aku yakin ada satu keindahan pelindung yg x dapat digambarkan. kau tahu apa? taqwa. tuelah shield yg mampu menahani segala ujian dan peperangan bahkan dgn si syaitan yg direjam.

krn ia sesuatu yg sgt berharga, makanya ia bukan sesuatu yg dpt dijumpai diantara butiran2 pasir pantai tapi kau perlu pertaruhkan nyawamu terjun ke lautan dalam kerana ia ibarat sang permata yg sukar utk didapati.
belajarlah dr sang mutiara membina taqwamu, yg tidak cantik dlm masa satu hari, namun gigih menjadikan hanya sang pasir walaupun sesuatu yg biasa dan kdg tidak cantik pun, namun sang mutiara cekal mhadapi ujian. ia bak menukar segala ujian ke pada kesyukuran dan kesabaran. aku tahu kamu lebih pintar utk menghayati ciptaan Allah ini. nah, fikirkanlah hidup sang mutiara dan taqwamu.

satu jer aku ingtkan, jgn putus asa membina taqwamu, krn sang mutiara yg indah itu tidak tbentuk dlm masa sehari, sebulan, hatta setahun krn mungkin ia mgambil masa yg btahun2. igtlah, jgn berputus asa kerana usahamu, giatmu, yg dipandangNya bukan pengakhiran terbentuknya sang mutiara itu.

stop rowing:0538/05052012


Tarbiyah Allah swt...kasih sayang Allah swt


Cukup halus tatkala menghayati seni tarbiyah Allah swt yang sebenar. Dan sebaik-baik tarbiyah Allah adalah dengan Ujian dan musibah. Kaifiyat tarbiyah Allah bilamana diteliti kehalusannya akan menimbulkan keinsafan dalam diri. Maka lahirlah pula pelbagai sifat-sifat mahmudah. Inilah Tarbiyah Allah s.w.t. TarbiyahNYA menyemarakkan iman seseorang. Hatinya yang lalai menjadi lebih dekat dan rindu pada Allah swt. Apabila akal menjadi ukuran penilaian kaifiyat tarbiyah Allah, sudah pastilah seseorang itu merasa dirinya tidak berguna, kecewa dan tidak redho dengan ujian yang menimpa. Maka lahirlah sifat-sifat mazmumah dalam hati lantaran buruk sangkanya pada tarbiyah Allah swt.

Berbeza pula apabila iman menjadi kayu ukur bagi kaifiyat tarbiyah ini. Dalam buku “al-Hikam” karangan ibn Ata’illah as-sakandari, beliau mengibaratkan ujian itu suatu nikmat yang tersembunyi atau ditangguhkan. Hanya dapat diperolehi dengan bersangka baik pada Allah swt iaitu Husnodzon. Dan orang yang paling husnodzon adalah Rasulullah saw, qudwatun hasanah sepanjang zaman. MasyaAllah..!!


Tarbiyah Allah swt memerlukann penghayatan yang tinggi. Penghayatan iman yang mantap mampu mendorong seseorang itu lebih akrab dengan tuhannya. Mengimbas sejarah islam bagaimana Rasulullah saw di uji menjadi anak yatim piatu di waktu kecil usianya. Baginda tidak pernah merasa kasih sayang seorang ayah. Banyak lagi ujian-ujian yang baginda terpaksa lalui khususnya dalam penyebaran dakwah baginda. Bermula dakwah secara sir sehinggalah dakwah baginda secara terbuka. Namun ujian itulah yang mentarbiyahkan Rasulullah saw menjadi seorang yang cekal, sabar dan tabah sebagai seorang hamba Allah yang unggul peribadinya.

Setiap kehidupan itu pastinya akan berteman dengan ujian. Samada ujian kebaikan atau sebaliknya. Sekalipun kita melihat orang kaya yang banyak hartanya, bahagia hidupnya, tetapi dalam bahagia itu dirinya menjadi perhatian Allah dan manusia. Allah mengujinya samada bersyukur atau kufur pada RahmatNYA. Hakikatnya manusia kala ini terlalu ramai yang tewas dengan nafsunya. Nafsu yang terlalu dimanja-manja dengan wang ringgit dan segala macam kemewahan, pangkat, darjat dan kecantikan selalunya menjadikan si pemiliknya lupa diri, bongkak, ujub dan segala macam lagi sifat-sifat mazmumah yang bersarang dihati.

Akan tetapi, nafsu menjadi lemah tikamana kesusahan itu yang menjadi santapannya. Ramai manusia apabila ditimpa dengan musibah dan ujian, hatinya lebih lembut untuk menerima hidayah Allah. Sirah perjuangan nabi Muhammad di Mekah menjadi buktinya. Ramai di kalangan masyarakat arab ketika itu yang menerima islam di awal penyebarannya terdiri di kalangan orang yang faqir miskin, hamba abdi dan kaum perempuan yang dianiaya. Di sinilah letaknya hikmatnya Allah menguji hambaNya dengan kesusahan dan kepayahan hidup. Bersabda Nabi saw : "Sesungghnya Allah suka pada tiap hati yg selalu berdukacita". Abu Ali addaqqad berkata: "Rasulullah saw selalu merasa berdukacita dan selalu berfikir". Fitrahnya manusia, ketika bergembira amat jarang hatinya mengingati Allah swt. Hati yang banyak bergembira cenderung hatinya kepada hubbud dunya (cintakan dunia). Dan amatla rugi orang yg hatinya cinta kepada dunia dan seisinya sdg dunia itu bersifat FANA.

Tikamana dirimu diuji oleh Allah dengan kebaikan dunia, maka bersyukurlah pada nikmat kurniaNYA. Itu tandanya dirimu dalam pemerhatianNYA. Siapkan diri dengan iman dan taqwa, kerana itulah yang akan menjadi bentengmu daripada godaan syaitan dan nafsumu yang tidak ada istilah waktu untuknya melalaikanmu. Sungguh nafsu itulah yang paling hampir dengan dirimu. Maka, kalahkanlah ia dengan banyak memberi kerana Allah swt. Jikalau ujian Allah berupa kekayaan, banyakkanlah menghulur pada yang memerlukan. Sungguh kekayaan itu hanyalah pinjaman semata. Pemiliknya adalah yang kekal Abadi. Kita hanyalah insan faqir yang hanya menumpang Kesempurnaan sifat-sifatNYA. Jadikanlah barang pinjaman itu sebagai wasilah untuk engkau mendekatkan dirimu pada ALLAH swt. Sesiapa yang memberi pinjaman pada Allah (sedang Allah tidak memerlukan pinjaman) maka Allah akan memberikan pulangan yang berlipat ganda (qardan hasanah) hasil daripada apa yang dilakukannya.. 

Sekiranya ujian nikmat itu berupa darjat dan pangkat, maka ingatlah kekuasaanNYA dan AgungNYA Allah swt, supaya hatimu terhindar dari megah diri dan bongkak. Sekiranya ujian itu berupa kecantikan, ingatlah akan dirimu, kecantikan itu hanyalah sementara dan kecantikan itu hanyalah nilaian zahir bagi manusia. Sedang nilaian manusia itu hanyalah tidak lain hanya melalaikan dirimu dengan pujian. Jadikanlah dirimu begitu berharga dan bernilai di hadapan Allah swt. Baginda bersabda : “ Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa paras dan kekayaan kamu, tetapi melihat pada amal dan hati-hati kamu”.

Andai dirimu di uji dengan kesusahan hidup, tetapkan lah hatimu dan bersangka baiklah (husnu dzon) pada ALLAH s.w.t. Itu tandanya Allah rindu untuk mendengar luahan bicaramu. Allah amat suka mendengar bisikan-bisikan hati yang rindu kasih sayangNYA. Sedang dirimu di uji, Allah sebenarnya ingin memeliharamu dari sejuta keburukan. Ingatlah ikhwanku yang dikasihi Allah.. Setiap kesusahan itu akan diakhiri dengan kebaikan dan kemuliaan. Maka hendaklah engkau lapangkan dadamu dan bersyukur penuh redha agar kebaikan dunia akhirat itu menjadi penghuni hatimu. Moga kedukaan itu berganti dengan ketenangan, redho dan ikhlas dalam setiap apa yang berlaku lantaran husno dzonnya engkau pada ALLAH sw.t. Mulakanlah harimu dengan senyuman yang lidahnya sentiasa bertahmid memuji Allah swt, yang hatinya sentiasa mengingati Allah swt dan merasa bahagia sepanjang masa..

Jadilah orang yang bersyukur sewaktu menerima ujianNYA lebih-lebih lagi tika musibah menimpa. Itu tanda kasih sayang Allah swt padamu agar hatimu sentiasa bertaut padu dengan namaNYA. Usah mengeluh pada RahmatNYA, sekalipun ujian musibah menjadi tamu hidupmu.. Insafilah dan hayatilah simbolik kesusahan hidup yang menimpamu. Allah lebih Maha Mengetahui sedang kita sedikitpun tidak mengetahui. Serahkanlah kehidupanmu sepenuhnya pada Allah swt. Pasti suatu hari nanti, dirimu akan tersenyum syukur dan bahagia atas ketentuanNYA.. dan barulah engkau mengetahui itulah yang terbaik untuk dirimu. .. 
SubhanALLAH walHamdulillah.. ^_^




~wind~



Friday, May 4, 2012

Jangan Berkira Dengan Allah





Kita ni kalau orang kata “kau ni sembahyang sebab janji buat je ke? autopilot? ” 
 Aih. Marah. 

“biar Allah je yang judge, ok..” katanya.

Tapi, tipulah kalau tak pernah ada rasa macam, “asalkan settle yang wajib sudahlah. Sunat-sunat tu, lah..nama pun sunat..” 

Satunya, kenapalah itu pun nak berkira dengan Allah. Apa salahnya spend masa lebih sikit untuk buat yang sunat-sunat tu. Allah dah bagi macam-macam dah. Yang memang keperluan Dia dah penuhkan, yang kehendak pun Dia bagi juga. Tapi kita, ‘asalkan settle yang wajib sudah.’

Baiklah apakata kita cuba buat analogi; si ayah nya kata dia dah spend duit dah untuk anaknya. Ditanya, dia spend apa? Dia kata, dia bagi makan, pakaian, tempat tinggal dan hantar pergi sekolah.

La..itu dah memang wajib, memang tanggungjawab dia pun. Rela tak rela, memang kena! Tapi ada ke dia belikan si anak tu hadiah yang dia nak sangat-sangat, basikal ke, buku ke, pistol air ke.. Berapa kali si ayah tu belikan kek harijadi, atau bawa pergi bercuti tanpa diminta?
Ok analogi lagi: Bayangkan pihak kerajaan satu negara ni kata, dia dah bagi macam-macam pada rakyat. Jadi rakyat kena sokong dia. Kita tanya, bagi apa? Katanya, bekalan air, elektrik, sekolah, jalan raya segala. Hmm, again, itu dah memang wajib. Sesiapa pun kalau disokong menjadi kerajaan, dia akan kena sediakan semua tu.

Habis macam mana?
Ini lah jadinya kalau buat sesuatu ‘sebab syarat’ je. Maksudnya, buat supaya settle tugas je. Bukan sebab nak menghargai pihak sana.

Takkan sama seorang anak yang hantar duit setiap bulan kepada emak dia sebab dia tengok semua anak bila dah besar akan buat macam tu, dengan anak yang hantar duit sebab itu yang termampu dia buat untuk ringankan beban mak dia yang dah tua dan untuk senangkan hati mak dia lepas semua yang mak dia lakukan untuk dia. Erk, macam pusing-pusing sikit, tapi faham kan?

Takkan sama anak yang jenguk ayah dia di kampung hanya sebab dia KENA jenguk, dengan anak yang buat macam tu sebab memang dia NAK jenguk and ambik tahu apa kabar ayah dia tu. 

Pointnya, beribadah sebab memang WAJIB dan KENA itu menunjukkan patuh. Which is bagus, alhamdulillah, syabbbas! Anda cemerlang! 

 “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali Imran:32) 

Namun, apalah salah nya kalau taat dan patuh itu diiringi dengan rasa syukur yang diekspresikan dalam bentuk perbuatan – dalam bentuk amal yang extra. 

Misalnya, kan elok di perpanjangkan solat (dengan munasabah) berbanding asyik nak habis cepat-cepat, bacaan pun laju-laju, ayat-ayat ringkas, balik-balik al-kauthar. Kan elok diperbanyakkan sujud (maksudnya kerjakan solat sunat, bukan pandai-pandai menambah bilangan rakaat) tanda tunduk dan syukur pada Allah dan kekuasaanNya. Kalau sudah terjaga di tengah malam tu kemudian tak dapat lelap semula, dan esok pula cuti, apalah salahnya bangun dan bertahajjud. 

“Dan bangunlah pada sebahagian dari waktu malam serta kerjakanlah “Sembahyang Tahajjud” padanya sebagai sembahyang tambahan bagimu, semoga Tuhanmu membangkitkan dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat yang terpuji”. (al-Isra’: 79) 
Rata-rata kita ni nak cepat-cepat bangun dan pergi selepas dah habis solat. Padahal, bukan ada hal mustahak pun, lepas tu nak sambung tidur. Atau online. Atau jalan-jalan. Eh, takut pula saya cakap macam ni. Sebab saya pun tergolong dalam golongan ini. TT_TT

Baiklah, apapun, marilah kita perbanyakkan ibadah sunat. Kerap-kerap kan berjumpa Dia, biar terjalin hubungan yang rapat dengan Maha Pencipta yang agung itu. Buanglah pemikiran “ala dah nama pun sunat kan, sunat je la..” atau “janji settle yang wajib..” 

Jangan lah kita ni berkira sangat untuk spend masa dan tenaga beribadah kepada Allah, kan Dia dah berikan macam-macam.

Kita selalu dengar, “jagalah hak Allah dan Allah akan menjaga hak kamu”. ihfazillah, yahfazka. Kita nak Allah perkenankan permintaan-permintaan kita, kita nak Allah rezekikan kita, kita nak Allah pelihara dan jaga kita setiap saat. Tapi kita ‘kedekut’ untuk ‘bodek’ Allah lebih sikit. Tak segan ke? Aduh.

Sedangkan Nabi pun bertahajjud sampai bengkak kaki nya. Bukan nak suruh terhapus dosa, Nabi mana ada dosa. Bukan nak suruh murahkan rezeki, Nabi sentiasa merasa cukup dengan rezeki yang baginda ada. Bukan nak suruh dapat pahala lebih sebab nak masuk syurga, Allah kan dah janjikan baginda memang tak ada dosa dan akan masuk syurga, siap boleh syafaatkan umat lagi.

Tapi bila ditanya oleh Aisyah, kenapa baginda rajin macam tu, Baginda menjawab;

“salahkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”  (muttafaq ‘alaih)

Marilah, cari dan adakan masa untuk melebihkan waktu bertemuNya. Pasti Dia mengalu-alukan. Tak perlu berkira sangat masa dan tenaga tu. Ekspresikan syukur dalam perbuatan. ‘Hadiahkan’ Allah dengan pertemuan yang tak disangka-sangka, pasti Dia akan hadiahkan kita dengan nikmat yang tak disangka-sangka. (:


Thursday, May 3, 2012

KAU!!! PENIPU. SAPA? DIRI KAU SNDIRI


AKU BENCI DIRI
 AKU YG TAK JUJUR

ASSALAMUALAIKUM N GREETINGS.
AKU JELES DGN SAHABAT YG BOLEH JUJUR DGN DIRI...MAKSUD AKU CLEARLY MEREKA BOLEH EXPRESS THEIR FEELING. I MEANT ABOUT THE BARRICADE. RUPERNYA NIE LAH RS DIA, BEEN THREAT WITH SOME POEPLE FROM EXPRESSING THE WORDS FOTOS OR SO ON. TP MOSTLY, THEY OPPOSE US FROM USING DP FOR FACEBOOK PROFILE. SAPA AKU DIORANG NK UGUT. I CANT DO ANY HARM TO THEM. BUT U KNOW WEN THEY KNOW THEMSELVES THEY ARE THE GUILTY ONE, EVEN FACEBOOK DP MADE THEM FEEL FEAR.

ONE THING I HOPE AFTER I WATCHED ALL VIDEOS N FOTOS,
I REALLY WANT TO MADE MYSELF BELIEVE THAT, THOSE TEENS JOINING THE BARRICADE, THEY RELLY MEANT WAT THEY DO. EVEN FROM FOTOS N VIDEOS, U ARE GREAT GUYS N GIRLS. MUCH MUCH MUCH STRONGER N BRAVE THAN ME. I CANT EVEN USE DP >_<. I KNOW SOME PEOPLE THEY ASK US NOT TO JUST FOR OUR OWN BENEFIT BUT I HATE MYSELF, MY OWN SELF THAT IM BEING NOT TRUE TO MYSELF. MUNGKIN, BECAUSE IM ALSO A TEENAGE SO I HAD THAT SPIRIT THAT TEENS HAD. N TAT MADE ME TOO OPPRESSIVE SOMETIME. I KNOW.

SO SAHABAT, ITS NOT WRONG TO OPPRESS BAD THINGS BUT NOT IN INAPPROPRIATE WAY

CUBE HANG PUJUK AKU NIE HAH!!!