Showing posts with label KISAH MUJAHIDAH. Show all posts
Showing posts with label KISAH MUJAHIDAH. Show all posts

Thursday, May 10, 2012

Mujahidah: Muadzah binti Abdullah, Perempuan Ahli Ibadah (3-habis)

Tahun 62 H, suami dan anaknya syahid di perang Sajistan. Ketika kabar duka datang, Muadzah sabar berserah diri kepada Allah. Banyak yang datang menyampaikan belasungkawa. 

Muadzah berkata kepada mereka, "Selamat datang kepada kalian, jika kalian datang untuk menyampaikan ucapan selamat. Namun jika kalian datang bukan untuk tujuan tersebut, pulanglah!" 

Para pelayat kagum dengan kesabaran Muadzah. Peristiwa ini semakin menambah tinggi kedudukan dan posisinya di mata mereka.

Ummu Al-Aswad binti Zaid Al-Adawiyyah yang pernah disusui oleh Muadzah berkata, "Muadzah berkata kepadaku saat Abu Ash-Shahba dan anaknya terbunuh, 'Demi Allah wahai putriku, tidaklah kecintaanku untuk tetap tinggal di dunia untuk kesenangan hidup dan ketenangan jiwa. Tapi sungguh, aku tidak suka tetap tinggal kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai cara. Semoga Allah mengumpulkan antara diriku dengan Abu Ash-Shahba beserta anakku di surga."

Sepeninggal suaminya, Muadzah masih hidup lebih 20 tahun. Setiap hari dilewatinya dengan ibadah, dan mempersiapkan diri bertemu dengan Allah. Dia berharap dapat berkumpul kembali dengan suami dan anaknya dalam naungan kasih sayang-Nya.

Dikisahkan saat menjelang ajal, Muadzah menangis kemudian tertawa. Lalu ia ditanya, "Apa alasan untuk menangis, dan apa alasan untuk tertawa?" 

Dia menjawab, "Adapun tangisanku yang kalian lihat, karena aku mengingat perpisahan dengan aktivitas puasa, shalat dan dzikir. Itulah tangisan tadi. Adapun senyuman dan tawa, karena aku melihat Abu Ash-Shahba telah menyambutku di beranda rumah dengan dua kalung berwarna hijau. Dan ia bersama dalam rombongan. Sungguh aku tidak melihat mereka mempunyai kalung yang menyamainya, maka aku tertawa."

Itulah firasatnya. Ia wafat sebelum masuk waktu shalat, pada tahun 83 H. Muadzah termasuk shahabiyyah yang patut diteladani umat Islam, khususnya kaum Muslimah


WINDS

Wednesday, May 9, 2012

Mujahidah: Muadzah binti Abdullah, Perempuan Ahli Ibadah (2)


Salah satu ucapan Muadzah kepada perempuan yang disusuinya, "Wahai anakku, jadikanlah pertemuan dengan Allah diiringi sikap waspada dan pengharapan. Sebab, aku melihat orang yang berharap mendapatkan hak dengan kebaikan tempat kembali di hari ia menghadap-Nya.
Aku melihat orang yang takut mendapatkan angannya akan keselamatan di hari di mana orang-orang berdiri menghadap-Nya."

Dia juga mengingatkan jangan pernah tertipu dengan pesona duniawi. "Aku menemani dunia selama 70 tahun. Aku sama sekali tidak melihat ketenangan mata di dalamnya."

Perempuan ahli ibadah ini memiliki nama lengkap Muadzah binti Abdullah Al-Adawiyyah Al-Bashriyyah Ummu Ash-Shahba’. Semasa hidupnya ia dekat dengan Rasulullah, dan para sahabat. 

Kedekatan ini yang membuatnya beruntung, karena mendapat ilmu langsung dari sumbernya. Ia mendapat ilmu dari Rasulullah, belajar dari istri Rasulullah, Aisyah, serta para sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Hisyam bin Amir. Dari para sumber ilmu inilah, Muadzah meriwayatkan hadis-hadis dari mereka.

Kehidupannya yang hanya untuk ibadah dan beribadah menjadikan Muadzah mendapat simbol perempuan yang takwa. Allah menggambarkan perempuan-perempuan salihah dalam firman-Nya, "Sebab itu, maka perempuan yang saleh, yakni yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (QS. An-Nisa: 34). 

Perempuan yang memelihara diri, dan harta saat suaminya tidak ada adalah nilai terbesar yang diidamkan dalam diri perempuan. Muadzah Al-Adawiyyah termasuk dalam golongan ini.

Mujahidah: Muadzah binti Abdullah, Perempuan Ahli Ibadah 1

"Aku sungguh heran dengan mata yang selalu tidur. Padahal dia telah mengetahui adanya tidur panjang nanti di dalam kegelapan kubur." 

Pernyataan ini diungkapkan oleh Muadzah binti Abdullah yang dikenal sebagai perempuan ahli ibadah. Sepanjang waktunya diisi dengan mengingat Allah. 

Dia sangat gemar membaca Alquran, terutama ba’da shalat Subuh dan sore hari. Hatinya tidak pernah kosong, selain berdzikir kepada Allah.

Malam hari, di saat orang terlelap istirahat, Muadzah tidak mau melewatkan waktunya sedetik pun untuk tidur. Dia hidupkan malam untuk kembali beribadah. 

"Wahai jiwa, tidur di hadapanmu seandainya engkau lakukan, maka akan panjang tersungkurmu di alam kubur dalam kesengsaraan. Atau (engkau inginkan) kebahagiaan," demikian prinsip Muadzah.

Ketaatan Muadzah beribadah hingga ada riwayat di mana malam pengantin yang lazimnya dilalui untuk bermesraan, tidak demikian bagi pasangan ini. Bersama suaminya, Shilah bin Asyyam, Muadzah menjadikan malam pengantin dengan beribadah. 

Keduanya, yang tidak pernah berpaling dari Allah, melakukan shalat malam, hingga tanpa terasa telah memasuki waktu fajar. Mereka lupa kalau sedang menjalani malam pengantin.

Keesokan harinya, keponakan Shilah menanyakan kepada pamannya, "Wahai paman, putri pamanmu (Muadzah-red) telah diserahkan padamu tadi malam. Lalu engkau melaksanakan shalat dan membiarkannya." 

Shilah menjawab, "Wahai keponakanku, sesungguhnya kemarin engkau telah memasukkan diriku di dalam sebuah rumah yang mengingatkan aku pada neraka. Kemudian engkau masukkan aku ke sebuah rumah yang mengingatkan aku pada surga. Dan pikiranku terus menerus ada pada keduanya hingga keesokan harinya."

Begitulah kehidupan Muadzah bersama suaminya yang hanya memiliki satu tujuan, hidup mencari ridha Allah. Pasangan ini bagaikan pertemuan lautan ilmu. Shilah selama itu dikenal sebagai orang yang terhormat, pemimpin teladan, dan juga ahli ibadah. Keduanya merupakan ahli fikih. 

Tidak hanya urusan ibadah, Muadzah memiliki sifat bijaksana mengalir dari setiap kata-kata dan perbuatannya. Segala ucapan Muadzah tidak pernah lepas dari nasihat, dan peringatan tentang dunia.


WINDS